19 Februari 2009

Pramoedya and my respect for him...

Saya membuka - buka postingan di blog Andreas Harsono, salah seorang jurnalis favorit saya. Di antara postingan yang sudah dipublish hampir sekitar tiga tahun lalu, ada sebuah postinganyang menarik perhatian saya, judulnya 'Pramoedya, facism, and his last interview'. postingan tersebut menceritakan tentang wawancara terakhir pak Andreas dan almarhum mbah Pram.

Wawancara tersebut membahas banyak hal, mulai dari Hasan di Tiro yang berpendapat bahwa Indonesia adalah "bangsa jawa", pengakuan seorang papua yang merasa mereka dieksploitasi, hingga permintaan maaf Pram pada teman aceh-nya. Ditengah wawancara, Pramoedya meminta izin ke 'belakang'. Andreas yang telah menunggu lebih dari dua jam, merasa harus menyudahi wawancara, karena merasa Pram harus istirahat. Wawancara pun sepakat dilanjutkan di lain waktu.

Yang menyedihkan, ternyata wawancara tersebut tidak 'benar - benar' selesai. Karena Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis legendaris di negeri ini, harus menemui ajalnya, sebelum menuntaskan janjinya pada Andreas Harsono.

Terlepas dari itu semua, saya pribadi sangat mengagumi Pramoedya lantaran pemikiran - pemikirannya yang dicurahkan melalui buku. Satu kalimat dari Pramoedya, yang benar - benar membuat saya sebagai seorang yang menuntut ilmu, merasa tersentuh. "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian".



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

2 komentar:

And the movie talk them self in our mind mengatakan...

Masa sih?

Firman Nugraha mengatakan...

masih sempet baca buku Mbah Pram sembari kuliah di kedokteran, Ger?